Inilah Saya

Cara kita dibesarkan oleh orangtua, akan mempengaruhi pola asuh kepada anak. Terlebih lagi jika kita tumbuh bersama luka yang dalam, trauma, dan kesedihan. Katanya, orang-orang menyebutnya sebagai "inner child", yang harus dituntaskan. Jika tidak, akan terjadi utang pengasuhan dan berdampak negatif terhadap pola asuh berikutnya.

Inilah saya. Saya tumbuh di lingkungan dimana saya tidak dihargai atau direndahkan karena saya tidak pintar dalam hal akademis. Kesukaan dan kemampuan saya dalam bidang seni bukan sesuatu yang populer di keluarga besar saya. Saya akan dihargai jika saya (1) adalah seorang sarjana (2) adalah seorang PNS, dan bonus (3) lulusan universitas luar negeri.

Saya sering bertanya-tanya, apa yang membuat hasil pengasuhan kedua orangtua saya berbeda antara saya dan kakak. Ya, kakak saya adalah primadona keluarga kami. Selain pintar, ia lulusan UGM, menjadi PNS, dan mengambil S2 di Twente University, Belanda. Betul-betul jalan yang lurus, seperti yang orangtua saya harapkan. Ibu bercerita, bahkan sejak SMP, kakak saya mendambakan berkuliah di UGM.

Saya? Saya tidak punya target seperti itu. Saya lebih dipusingkan oleh perkara-perkara jangka pendek, seperti bagaimana ujian besok? atau cerita apa yang harus saya buat untuk tugas Bahasa Indonesia?

Saya senang menjadi biasa-biasa saja, tidak populer, misterius dan tersembunyi. Anehnya saya juga ingin dikenal orang, tapi setelah dikenal, saya merasa minder, malu, dan mempertanyakan prilaku saya, apakah ini cukup benar untuk dilakukan? Respon orang lain membuat saya kewalahan sekali. Sebabnya saya sering muncul kemudian menghilang, dan begitu seterusnya.

Saya juga cukup senang dengan diri saya yang menyukai bidang seni walaupun tidak menekuninya secara profesional. Saya cukup senang dengan diri saya yang begitu tertarik dengan sesuatu diluar bidang sekolah (analis kimia) saya, seperti astronomi, kosmologi, astrofisika dll. Apa yang saya sukai kenyataannya memang tidak menghasilkan apa-apa (red:uang), selain kesenangan bagi diri saya.

Saya tidak tahu, apakah orangtua saya menerima saya yang biasa-biasa saja atau mereka hanya sekedar bersyukur.

Inilah saya dan apa yang saya rasakan. Saya tidak seperti kakak saya. Saya tidak percaya diri, minder, penunda, dalam kondisi tertentu sangat mudah tersinggung, tidak fokus. Kakak saya adalah sebaliknya.

Saya sudah memaafkan masa lalu, apa yang terjadi saya terima. Saya tidak menyalahkan orang tua, bagaimana pun mereka sudah berjuang sesuai kemampuan. Latar belakang, keterbatasan informasi, keadaan finansial, dan lingkungan kedua orangtua jugalah yang mempengaruhi pola asuh mereka.

Tapi, kenyataannya, apa yang saya rasakan sangat sulit. Saya seperti terseok-seok memperbaiki diri saya agar tidak ada utang pengasuhan, agar saya bisa memberikan pola asuh yang lebih baik. Sangat tidak mudah dan begitu melelahkan.
Kewalahan ini diperparah dengan kebingungan saya mengenai pola pengasuhan yang tepat bagi anak-anak saya.

Bagaimana saya harus bersikap jika anak seperti ini? Mengapa saya terus merasa kesepian, padahal saya hidup bersama-sama dengan orang lain? Kenapa anak saya melakukan hal ini? Apa yang dirasakan oleh anak saya? Mengapa saya begitu tertekan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Tulisan-tulisan dalam blog ini kiranya menjadi bagian dari proses self-healing saya dalam mengurangi pikiran-pikiran yang semakin lama kian menumpuk.

Namun saya juga berharap tulisan saya dapat membantu orangtua di luar sana yang sama bingungnya seperti saya.

Comments